RSS

Muslimkah Anda ?

29 Apr

Pertanyaan di atas bagi yang merasa beragama Islam tentu dalam hati menjawab “ya jelas dong” atau paling tidak jawabannya : ya..!tapi jika anda yang punya (diantara) jawaban tersebut di atas terus ditanya “Sudahkah kita Islam ?” tentu merasa bahwa hal tersebut merupakan satu pertanyaan yang aneh dan membingungkan. Apalagi bagi mereka yang yakin yakin bahwa status keislamannya merupakan warisan orang tuanya yang secara otomatis akan lebngket melekat ke anak cucunya. Ditambah lagi dengan kefasihan mengucapkan kalimat Syahadat, mengerjakan Shalat, Puasa, berzakat dan puncaknya melaksanakan ibadah Haji, maka utuhlah ia merasa sebagai pemeluk Islam dengan keyakinan bahwa surga adalah balasan baginya sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam Al Quran.
Pada hakikatnya apa yang mereka yakini adalah benar sebab surga memang dijanjikan Allah bagi hamba-Nya yang Islam dan Shaleh. Dan kita tidak boleh meragukan janji Allah. Yang perlu kita telaah disini adalah kebenaran prosedurnya sehingga kita kita memang berhak mendapat status sebagai “pemeluk Islam” yang seharusnya status itu diakui oleh Si Pemilik Islam itu sendiri yaitu Allah, jadi bukan menurut kita.

Makna dan pengertian “Islam”
“Islam” menurut asal katanya; “aslama” yang berarti tunduk, taat dan patuh. Timbul pertanyaan jadi kalau kita Islam, lalu kepada siapa kita tunduk? Marilah kita perhatikan Firman Allah dalam S. Ali Imran ayat 83 yang artinya : “Maka apakah mereka mencari Dien yang lain daripada Dienullah, padahal kepada-Nya lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpakasa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan.”
Seseorang meyakini Ayat-ayat Allah (Al Quran) harusnya sesegera mungkin membuat daftar pertanyaan untuk dijawab sendiri.
Apakah kita sudah tunduk dan patuh kepada Allah?
Pertanyaan ini begitu ringan, sehingga sebagian orang juga enteng menjawab bahwa ia sudah tunduk dan patuh. Ironisnya lagi, jawaban seperti itulah yang akan kita dengar dari hampir seluruh orang yang beragama Islam khususnya di Indonesia. Dengan mengerjakan shalat wajib 5 (lima) waktu sehari semalam, berpuasa pada bulan Ramadhan, berzakat, dan bagi yang mampu mengerjakan Haji maka sempurnalah Islamnya. Kalaupun ada dosa-dosa kecil asal tidak syirik pasti akan mendapat surga, ia tidak peduli apakah harus tunduk dan berhukum kepada thaghut. Yang penting ia tidak merugikan orang lain.
Apakah hal tersebut adalah benar ? mari kita simak QS Al-Baqarah : 256 yang artinya :
“Tidak ada paksaan untuk memasuki Islam. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpagang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Demikian pentingnya syarat ini sehingga Allah begitu sering mengulang-ulangnya, antara lain
dalam Surat An-Nisa : 60 dan ayat 76. Ayat
di atas menegaskan bahwa syarat diakui atau tidaknya keislaman seseorang oleh Allah menyagkut masalah kepada siapa kita tunduk (Wala’) dan kepada siapa kita harus ingkar (Bara’). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembuktian ketundukan kita kepada Allah dengan cara mengikhlaskan diri diatur oleh hukum-hukum Allah, dan sebaliknya harus menolah segala bentuk hukum buatan thaghut dan dan hukum produk kafir lainnya.

Apakah kita sudah patuh dan tunduk kepada Rasulullah ?
Ketentuan kedua yang menjadi syarat benar tidaknya keislaman kita adalah pengakuan bahwa Muhammad Saw seorang Rasul Allah. Konteks ayat di atas memberi penjelasan dan penegasan bahwa seorang yang mengaku tunduk kepada Allah juga harus tunduk kepada sunnah dan perintah Muhammad “semenjak beliau diangkat menjadi Rasul Allah”. Bentuk kepatuhan yang dituntut di sini tidaklah hanya sebatas bagaimana Rasullullah makan, tidur, berjalan, berpakaian, shalat dan sebagainya (yang berkenaan dengan ritual). Akan tetapi yang lebih inti adalah bagaimana beliau berjuang untuk tegaknya aturan Allah di bumi. Bagaimana beliau bersama para sahabat dan generasi terdahulu berjuang tanpa mengenal takut berjihad melalui pengorbanan harta (amwal) dan nyawa (anfus) hanya mengharap supaya Allah ridho.
Sementara saat sekarang ini, tidaklah malu orang yang mengaku sebagai pengikut Muhammad jika diminta untuk mengorbankan “sebagian” harta saja
masih berpikir panjang . Bahkan lebih banyak berpikir untuk mencari nafkah guna memenuhi kepuasan, kebutuhan keluarga yang cenderung dijadikan Ilah selain Allah. Atau tidakkah malu kalau mengaku sebagai pengikutnya tapi masih bersuka cita barlapang dada menjadikan kaum kafir sebagai auliya’, sebagai pelindung, penolong dan sahabatnya. Allah berfirman dalam QS Al-Mujadalah : 22.
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yangberiman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkannya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.”

Sudahkah kita dalam jamaah Islam yang Haq ?
Dalam sebuah hadits shahih dijelaskan bahwa keislaman seseorang akan tanggal dengan sendirinya bila ia keluar dari jamaah Islam walaupun sejengkal. Meski ia melakukan Shalat, puasa dan berzakat. Hadist ini memberi penegasan bahwa dalam berislam tidak bisa sendiri-sendiri. Hal ini sesuai dengan ayat Allah dalam QS. Az-Zumar:73 “Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rab-nya dibawa kedalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu, maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal didalamnya”.”

Ayat ini hendaknya memberikan motivasi untuk masuk kedalam jamaah Islam yang haq.

Sesuai dengan tuntunan ayat dapat dijelaskan bahwa Islam yang haq mempunyai karakter dan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Hanya tunduk kepada ketentuan, hukum, dan aturan Allah dan Rasul.

2. Menolak bekerjasama dengan Thaghut dengan alasan apapun.

3. Mereka berkasih sayang sesamanya, keras terhadap orang kafir dan segala bentuk kelafiran.

4. Mendambakan mati sebagai syuhada.

5. Taat beribadah, baik yang wajib maupun sunnah.

6. Mengingkari segala bentuk bid’ah dan pengkultusan (taqlid).

7. Siap mengorbankan segalanya untuk Islam dan ridho Allah.

Semua uraian diatas hanya sebagian kecil dari banyak persyaratan yang harus diaplikasikan kedalam kehidupan jika ingin diakui Allah sebagai hamba-Nya yang Islam. Karena Allah akan menafikan (mengingkari/membatalkan) semua amal ibadah seseorang yang tidak mengikuti ketentuan-Nya seperti ditegaskan dalam QS. An-Nur:39, Ibrahim:18, dan Muhammad:8-9.

Penjelasan ayat diatas hendaknya menyadarkan kita bahwa selama ini kita begitu mengentengkan Islam dan ketentuan yang termaktub didalamnya (Al-Qur’an & Hadits). Bahwa selama ini kita terjerat kepada pemahaman yang salah dan menyimpang. Akibatnya tanpa disadari telah begitu banyak melalaikan tugas sebagai hamba Allah dan pengikut Rasulullah. Dan ternyata selama ini juga telah salah menjatuhkan pilihan soal kepemimpinan (Ulil Amri).

Apakah kita lupa bahwa Rasulullah berperang bukan karena penguasa pada saat itu melarang pengikut Islam Shalat, Puasa, Zakat dan naik Haji, tapi memenuhi perintah Allah untuk memenangkan hukum dan aturan Allah (Islam) sesuai dengan ayat Allah dalam QS. At-Taubah:33 “Dialah yang menutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan Dien yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala Dien walaupun orang-orang musyrik itu benci”.

Seterusnya secara de facto dan de jure Allah juga menjanjikan bahwa Ia akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang beriman suatu bentuk pemerintahan (Khilafah) yang berdaulat sesuai dengan QS. An-Nur:55 ” Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia meneguhkan bagi mereka Dien yang telah diridhoi-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.

Kini saatnya kita bangn dari kezaliman dan segera bertaubat kepada Allah. Hanya Dia yang berhak mengatur hidup dan kehidupan kita. Mari kita ingkari Thaghut dan sistemnya melalui hijrah tauhid (aqidah) selagi masih diberi kesempatan untuk bertaubat, marilah kita perbaharui keislaman kita karena dengan Islam kita akan selamat di dunia dan di akhirat.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 29 April 2009 in Tafakkur, Tentang Islam

 

2 responses to “Muslimkah Anda ?

  1. FAISAL

    15 Desember 2010 at 5:13 pm

    tulisan yang menarik, terima kasih sudah mengingatkan saya lewat tulisan ini
    Main2 ketempat saya ya
    http://pitaxxx.wordpress.com/

     
    • Surono

      15 Desember 2010 at 5:42 pm

      Terima kasih kembali. Lain kali saya akan mampir.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: